Selasa, 03 Juni 2008

PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah - detik.com

Jakarta - Bagaimana PBNU, ormas Islam terbesar di Tanah Air memandang rusuh Monas 1 Juni? Mereka berpandangan, baik FPI maupun AKKBB, keliru memaknai Ahmadiyah.

"Kelompok yang berada di Monas (FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan/AKKBB) keliru meletakkan konotasi Ahmadiyah ini, sehingga mereka mengatakan bahwa Ahmadiyah ini adalah masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan," kata Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan pada detikcom, Selasa (3/6/2008).

Hasyim menuturkan, sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi ada masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.

Menurutnya, kalau Ahmadiyah lahir sebagai agama tersendiri, itu tidak masalah. Tapi kalau dia (Ahmadiyah) mengaku Islam, lalu nabinya ada dua, itu masalah dalam konteks ke-Islam-an, tidak dalam konteks agamanya (Ahmadiyah).

"Saya kira, dalam agama lain pun demikian. Misal, jika ada orang Kristen dan saya orang Islam, tentu ia harus rela, karena hal itu adalah masalah kebebasan beragama. Tapi, jika ada orang Kristen mengaku orang Kristen, tapi salibnya tidak ada Yesus-nya, tapi gambar orang lain, dia tersinggung enggak? Berarti itu adalah penodaan terhadap intern Kristen sendiri," beber Hasyim.

Jadi, imbuh Hasyim, ini adalah masalah meletakkan Ahmadiyah dalam konteks kebebasan beragama, padahal ini konteksnya adalah pembelokan dari agama tertentu. Lain kalau dia (Ahmadiyah) sebagai agama sendiri, itu malah bebas, dalam konteks konstitusi Indonesia.

"Jadi, hendaknya dibedakan antara kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan masalah penodaan terhadap agama tertentu. Lalu, terjadi kekaburan atas dua hal yang saya sebutkan tadi," ungkapnya.

Hasyim juga menyatakan, pihak yang menyerang telah melakukan kesalahan di mana kekerasan dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku. Apa pun alasannya, hal itu tidak dapat dibenarkan di dalam negara hukum seperti Indonesia ini.

Pemerintah sendiri, lanjut Hasyim, sampai hari ini lebih banyak berwacana daripada melakukan tindakan prevensi dan represi. Prevensi artinya mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Represi agar bisa menekan mereka gerakan yang bertentangan dengan hukum negara. ( nrl / asy )

9 komentar:

EMPIRIS mengatakan...

Salam Joang!
Apa yang terjadi di Monas adalah hasil akhir dari ketidaktegasan negara dalam menyikapi Ahmadiyah.
Insiden Monas adalah upaya putus asa dari para pendukung Ahmadiyah dan sekulerisasi NKRI. Upaya putus asa dari keterpojokkan mereka dalam hal kasus Ahmadiyyah. Upaya ini ditujukan untuk mengalihkan perhatian Ummat Islam Bangsa Indonesia dari isu Pembubaran Ahmadiyah lewat SKB tiga mentri menjadi pembubaran FPI.
Upaya mereka akan berhasil bila memang perhatian Ummat Islam Bangsa Indonesia menjadi tertuju pada polemik membubarkan FPI atau tidak.
Maka dari itu, EMPIRIS menyerukan agar Ummat Islam Bangsa Indonesia tidak reaksioner dengan menjadikan isu pembubaran FPI menjadi polemik di antara Ummat Islam Bangsa Indonesia. Ummat Islam Bangsa Indonesia mesti fokus dan tegas terhadap masalah Ahmadiyyah.

al faqir, empiris
http://empiris-homepage.blogspot.com/

anagata mengatakan...

semua itu hanya politik potong bambu pemerintah saja. masalah BBM belum tuntas kok malah diinjak dan diankat (dibesar2kan) masalah yg lain. buktinya tidak ada penanganan seriu paska tindakan anarkis FPI oleh aparat keamanan pada minggu kemarin. Giliran mahasiswa demo tempo lalu malah digebukin.

masih ingat ga yusuf kala pernah bilang, "masalah kenaikan BBM cuman hal biasa, paling tidak 2 sampek 3 minggu pasti sudah capek."

Anonim mengatakan...

wahai masyarakat FPI, bangkitlah...
sikat semua yg berani menghadang kita, kalau perlu kita sandra SBY JK...

bang rizieq, semalem ngentot berapa ronde sih... pakek ga itu loh yg baru ga... djoging anarkisme ...

ayo FPI kita bersatu tegakkan keadilan dg parang.... ayo serbu maksiat, bubarkan BANSER, AHMADIYAH juga... ayooo merdeka....

kita adalah FRONT PREMAN INTERNASIONAL, jadi walau bagai mana pun kita kacaukan semuanya... ayooo twuran.......

Anonim mengatakan...

ini nih yg waras. orang NU tuh dengerin ketuanya, hasim muzadi yg jelas2 rajin ibadah. bukan gus dur!

Wira mengatakan...

Ahmadiyah jelas-jelas menganggap Ghulam Mirza sebagai Al-Masih, di belakang namanya pun selalu diberi tambahan a.s (alaihissalam), sebuah tambahan yang sering dilekatkan kepada seorang nabi/rasul.

Aliran ini mempunyai 10 syarat bai'at (bisa dilihat di www.ahmadiyya.or.id), dimana syarat ke 10 itulah yang sangat aneh, isinya sebagai berikut:

=======
Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini "Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud" semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.
==========

Sudah jelas khan?
Kalau pakai akal sehat, aliran yang seperti ini sudah jelas keliru, bagaimana seorang Al-Masih Al Mauud bisa MENINGGAL?? kapan dia tidakkah Imam Mahdi/Al Masih yang akan memimpin manusia menuju kemenangan di AKHIR JAMAN?
Ataukah sekarang sudah datang akhir jaman itu?
Wallahu a'lam....

Jadi kalau FPI mendukung pembubaran Ahmadiyah, itu hal wajar. Tapi kalau NU meminta pembubaran FPI, saya pikir itu tidak wajar...

Anonim mengatakan...

Umat Islam Indonesia harus bisa membedakan antara Ajaran Islam dengan kebudayaan Arab. Islam tidak mengajarkan penyelesaikan permasalahan dengan cara kekerasan terlebih untuk perselisihan sesama umat Islam, haram hukumnya menumpahkan darah saudara muslim. Kekerasan yang selama ini diidentikkan dengan Islam adalah kebudayaan Arab yang disebarkan oleh orang-orang keturunan Arab Jahiliyah untuk meghancurkan agama Alloh ini, kegiatan-kegiatan yang sudah mereka lakukan dapat dilihat disini: http://www.thereligionofpeace.com/. Mereka ini adalah “musuh Islam” yang sesungguhnya, dimanapun mereka berada senantiasa menyebarkan terror dan kekacaukan dengan mengatasnamakan Islam. Di Indonesia, kegiatan “mereka” selain merusak citra Islam dengan melakukan aksi-aksi kekerasan, “mereka” juga berusaha untuk memecah-belah Islam disini. Kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana para “habib” ini menghina dan mencaci-maki ulama dan kyai pribumi, mereka berusaha memprovokasi umat Islam untuk memecah-belah dan menghancurkan Islam di Indonesia. Kita bangsa Indonesia hendaknya sadar, jangan sampai negara kita dijadikan seperti Afghanistan, Palestina, Iraq dll. Kita bukan bangsa Arab, kita memiliki kebudayan sendiri yang dapat menyatukan bangsa ini sehingga walaupun bersifat majemuk kita tetap dapat hidup berdampingan dengan tentram dan damai. Usir “habib-habib” yang hendak menghancurkan Islam dari bumi Indonesia sekarang juga…!!!

Anonim mengatakan...

FPI dibawah Habib Riziq adalah musuh umat Islam terbesar, terbukt ingin menghancurkan Muhammadiyah, NU dan Ahmadyah, dan ingin menchancurkan Amin Rais, Sutrisno Bachir, Gusdur, dll
lihat kejelekan mereka di http://indonesia.faithfreedom.org

ahbab rasulillah SAW mengatakan...

Nabi seraya bersabda, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, “man kaana yu,minu billaahi wal- yaumil-aakhir falaa yu,dzi jaarohu" barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir janganlah menyakiti tetangganya "wa man kaana yu,minu billaahi wal-yaumil-aakhiri fal-yukrim dhoyfahu" barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya " wa man kaana yu,minu billaahi wal-yaumil-aakhiri fal-yaqul khoiron au liyashmu" dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik atau diam”

Izzuddin Asy Syadid mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Arsip Blog